Bacaan Sujud Subbuhun Quddusun Rabbul Malaikati Warruh
Bacaan Sujud Subbuhun Quddusun Rabbul Malaikati Warruh ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 24 Dzulqa’dah 1447 H / 11 Mei 2026 M.
Kajian Tentang Bacaan Sujud Subbuhun Quddusun Rabbul Malaikati Warruh
- Pertama, Subhana rabbiyal a’la.
- Kedua, Subhana rabbiyal a’la wabihamdih.
- Ketiga, Subhanakallahumma rabbana wabihamdika Allahummagfirli.
Penting untuk diingat bahwa bacaan yang ketiga tersebut dapat dibaca baik saat rukuk maupun sujud. Pada kesempatan ini, akan dibahas bacaan keempat yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sama seperti bacaan sebelumnya, doa ini pun berlaku untuk rukuk dan sujud.
Redaksi Bacaan Keempat
Bacaan yang dimaksud adalah:
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
Artinya: “Maha Suci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh (Jibril).”
Agar bacaan ini tidak mudah terlupakan, setiap muslim hendaknya mempraktekkannya secara langsung dalam ibadah shalat harian, baik saat shalat sunnah Dhuha, qabliyah Zuhur, maupun shalat wajib lainnya.
Landasan Hadits
Dalil yang mendasari bacaan ini adalah hadits yang dituturkan oleh Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa membaca di dalam rukuk dan sujud beliau: “Subbuhun quddusun rabbul malaikati warruh”.” (HR. Muslim)
Makna Bacaan
Doa ini diawali dengan menyebut dua nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nama pertama adalah Subbuh yang memiliki arti Yang Maha Suci dari segala kekurangan. Nama kedua adalah Quddus yang berarti Yang Maha Memberikan Berkah atau Yang Maha Suci. Melalui bacaan ini, seorang hamba mengakui kesucian Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘Azza wa Jalla sekaligus mengakui bahwa Dialah Rabb yang mengatur para malaikat dan juga Malaikat Jibril (Ar-Ruh).
Bacaan Subbuhun Quddusun Rabbul Malaikati warruh diawali dengan menyebut dua nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat membaca doa ini, seorang hamba sejatinya sedang mengagungkan, memuja, serta memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Agar pengagungan tersebut tidak hanya terucap di lisan tetapi juga meresap ke dalam hati, makna dari nama-nama tersebut perlu dipahami dengan saksama.
Al-Subbuh: Kesempurnaan Mutlak
Al-Subbuh berarti Allah Maha Suci. Kesucian Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat mutlak, yang bermakna Allah Maha Sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun. Hal ini berbeda dengan manusia. Seorang pasangan hidup, baik suami maupun istri, pasti memiliki kekurangan, namun manusia tetap bisa mencintai mereka dengan sepenuh hati. Maka, sudah seharusnya seorang hamba lebih mencintai Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Sempurna dari segala aspek.
Kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi:
- Dzat-Nya: Allah Maha Sempurna dan kekal abadi (Al-Baqi). Berbeda dengan makhluk yang akan mengalami kematian dan perpisahan, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah punah.
- Sifat-Nya: Seluruh sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memiliki celah kekurangan.
- Nama-Nya: Nama-nama Allah adalah Asmaul Husna, yaitu nama-nama yang paling indah dan sempurna.
Salah satu bentuk keindahan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah keselarasan antara nama dan sifat-Nya. Jika Allah bernama Ar-Rahman, maka Dia benar-benar memiliki sifat Maha Pengasih. Jika bernama Ar-Rahim, maka Dia benar-benar Maha Penyayang. Kondisi ini berbeda dengan manusia, yang terkadang memiliki nama indah namun perilakunya tidak selaras dengan arti nama tersebut. Pada manusia, sering kali ditemukan ketidakcocokan antara nama yang disandang dengan kenyataan sifatnya.
Sering kali manusia merasa jengkel jika mendapati ketidaksesuaian antara nama dan perilaku seseorang. Sebagai contoh, seorang laki-laki yang bernama Saleh belum tentu memiliki perilaku dan sifat yang saleh dalam kesehariannya. Begitu pula seorang wanita bernama Salehah, belum tentu sifatnya sebaik arti namanya.
Nama Muhammad memiliki arti “Yang Terpuji”. Bagi Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, nama tersebut sangat selaras karena akhlak beliau memang sangat terpuji. Namun bagi manusia biasa, baik itu anak, cucu, maupun orang tua yang menyandang nama Muhammad, belum tentu perbuatannya selalu terpuji.
Kondisi tersebut berbeda mutlak dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nama-nama Allah sangat sempurna karena antara nama dengan sifat-Nya selalu selaras. Tidak ada kekurangan, cela, maupun cacat sedikit pun. Demikian pula dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Segala sesuatu yang diperbuat dan ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti sempurna, meskipun terkadang manusia merasa berat saat menghadapi ujian.
Keadilan Allah dalam Takdir dan Ujian
Setiap kejadian di alam semesta, baik itu berupa nikmat maupun ujian, merupakan takdir dan perbuatan Allah yang sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Adil dan tidak pernah berbuat zalim kepada hamba-Nya. Keyakinan bahwa perbuatan Allah itu sempurna dan takdir-Nya adalah yang terbaik bagi orang beriman akan membuat hati lebih tenang saat menghadapi ujian.
Seseorang mungkin merasa bahagia saat mendapatkan rezeki, namun merasa sedih saat kehilangan sesuatu. Padahal, baik rezeki maupun kehilangan tersebut semuanya adalah takdir Allah. Meyakini bahwa Allah itu Subbuh (Maha Suci dan Maha Sempurna) akan memberikan kenyamanan dan ketenangan batin, karena hamba yakin bahwa Allah tidak pernah berbuat zalim.
Makna Al-Quddus: Sumber Keberkahan
Nama Allah yang kedua dalam bacaan ini adalah Al-Quddus. Selain berarti Maha Suci, Al-Quddus juga bermakna Maha Memberikan Berkah. Berkah adalah kebaikan yang abadi, langgeng, dan terus berkembang. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberikan keberkahan tersebut.
Sebagai contoh, umur yang berkah adalah umur yang digunakan untuk kebaikan yang langgeng dan terus berkembang. Umur yang berkah tidak selalu berarti umur yang panjang secara hitungan tahun. Fir’aun diberikan umur yang panjang, namun umurnya tidak berkah karena digunakan dalam keburukan.
Sebagai contoh, Fir’aun dan Iblis diberikan umur yang sangat panjang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Iblis bahkan memohon agar usianya ditangguhkan hingga hari kiamat, namun usianya sama sekali tidak memiliki keberkahan karena tidak dipergunakan untuk ketaatan.
Seorang hamba semestinya tidak sekadar mengharapkan umur yang panjang, melainkan umur yang berkah. Umur yang berkah adalah usia yang senantiasa digunakan untuk kebaikan; semakin bertambah usia, semakin meningkat pula amal ibadahnya. Indikator keberkahan terlihat ketika seseorang yang dahulunya melalaikan perintah agama, seperti belum berjilbab atau shalatnya masih terputus-putus, kini pada masa tuanya menjadi lebih teguh dalam beribadah dan menuntut ilmu.
Kebaikan yang berkah sifatnya langgeng dan berkembang. Keberkahan ini tidak berhenti meskipun seseorang telah meninggal dunia, melainkan terus mengalir melalui amal jariah.
Amal Jariah dan Ilmu yang Bermanfaat
Setiap muslim perlu merenungkan bekal jariah yang telah disiapkan. Sebagai contoh, orang-orang yang mewakafkan tanah atau menyumbang pembangunan masjid akan terus mendapatkan aliran pahala selama bangunan tersebut dipergunakan untuk shalat dan pengajian. Meskipun donatur tersebut sudah berada di alam kubur, keberkahan amalnya tetap mengalir seiring dengan setiap sujud dan dzikir yang dilakukan jamaah di atas bangunan yang ia sumbangkan.
Selain harta, ilmu juga merupakan sarana amal jariah yang luar biasa. Banyak ulama yang secara materi mungkin tidak berlimpah harta, namun mereka mewariskan ilmu yang abadi. Contoh nyata adalah Imam Bukhari (Muhammad bin Ismail Al-Bukhari) yang wafat sekitar dua belas abad yang lalu. Hingga saat ini, kitab-kitab beliau seperti Al-Adabul Mufrad masih dipelajari dan dinikmati oleh umat Islam di seluruh dunia. Hal ini membuktikan bahwa ilmu beliau adalah kebaikan yang langgeng dan terus berkembang melintasi zaman.
Bagi seseorang yang merasa tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren atau tidak memiliki kapasitas menjadi ulama besar, peluang untuk memiliki amal jariah berupa ilmu tetap terbuka.
Peluang untuk memiliki amal jariah dapat dilakukan dengan mendukung orang yang sedang menuntut ilmu. Menanggung biaya pendidikan seorang santri, mulai dari uang sekolah, biaya makan, hingga kebutuhan penunjang lainnya, merupakan investasi akhirat yang sangat berharga. Ketika seseorang membiayai seorang anak untuk belajar di pondok pesantren, maka ilmu yang didapatkan, diamalkan, serta diajarkan oleh anak tersebut akan mengalirkan pahala kepada penanggung biayanya.
Bagi yang merasa tidak memiliki kemampuan secara finansial, kesempatan untuk beramal jariah tetap terbuka melalui pengajaran ilmu secara langsung. Seseorang dapat mempelajari cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar (tahsin), lalu mengajarkannya kepada anak-anak di lingkungan sekitar tanpa mengharap imbalan materi. Jika seorang guru mengajari lima orang anak membaca Surah Al-Fatihah, maka setiap kali anak-anak tersebut membaca surat tersebut dalam shalat sepanjang hidupnya, pahalanya akan terus mengalir kepada sang guru meskipun ia telah meninggal dunia. Terlebih jika murid-murid tersebut kemudian mengajarkannya kembali kepada keturunan mereka kelak. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya memikirkan warisan amal saleh yang akan dibawa mati, alih-alih hanya mengejar kepemilikan duniawi yang pasti akan ditinggalkan.
Makna Rabbul Malaikati war Ruh
Kalimat penutup dalam doa sujud ini adalah Rabbul malaikati warruh. Kata Rabb mengandung makna bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Pencipta, Pemilik, sekaligus Pengatur segala sesuatu.
- Al-Malaikah (Malaikat) Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat yang menciptakan, memiliki, dan mengatur para malaikat. Keimanan kepada malaikat merupakan bagian dari rukun iman.
- Ar-Ruh (Roh) Para ulama memberikan beberapa penafsiran mengenai makna Ar-Ruh. Salah satu penafsirannya adalah roh atau nyawa. Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta dan Pemilik nyawa setiap makhluk. Sebagai pemilik mutlak, Allah berhak mengambil nyawa tersebut kapan pun Dia kehendaki, dan manusia tidak memiliki hak untuk memprotes ketetapan-Nya. Apabila suatu saat Allah berkehendak mengambil milik-Nya dengan mencabut nyawa tersebut, seorang hamba tidak diperbolehkan untuk memprotes. Namun, merasa sedih adalah hal yang manusiawi dan wajar dialami oleh setiap insan.
Manusia yang paling sabar di muka bumi, yaitu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pun merasakan kesedihan. Seluruh putra dan putri beliau wafat mendahului beliau, kecuali Fatimah Radhiallahu ‘Anha. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersedih atas kepergian mereka, tetapi beliau tidak pernah melontarkan protes kepada takdir. Tindakan yang dilarang adalah protes, seperti menuduh Allah tidak adil karena mengambil anak satu-satunya atau membandingkan nasib dengan tetangga yang memiliki banyak anak. Protes demikian tidak dibenarkan karena Allah adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur Ar-Ruh atau nyawa.
Makna Ar-Ruh dalam Doa Sujud
Dalam bacaan Rabbul malaikati warruh, sebagian ulama menafsirkan Ar-Ruh sebagai Malaikat Jibril. Penafsiran ini menunjukkan kedudukan istimewa Jibril di antara para malaikat lainnya. Ada pula penafsiran lain yang menyatakan bahwa Ar-Ruh adalah makhluk istimewa ciptaan Allah yang bentuknya hanya diketahui oleh-Nya. Inti dari doa ini adalah bentuk pujian dan pengagungan yang mendalam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘Azza wa Jalla atas segala kesempurnaan Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Bacaan Sujud Subbuhun Quddusun Rabbul Malaikati Warruh” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56239-bacaan-sujud-subbuhun-quddusun-rabbul-malaikati-warruh/